Arti Idul Fitri
Arti Idul Fitri
“Allahhu akbar Allahhu akbar Allahhu akbar……” suara takbir menggema di kampung halamanku. Besok adalah idul fitri. “Yah….. besok sholat iednya di mana?” tanyaku pada ayah sambil menyalakan mercon. “Ya di lapangan dekat K.U.A dong…..” jawab ayah sambil membantu adikku memegangi kembang api pijar kecil. “Ha ha ha…… mbak Nisa aneh… ya di lapanganlah…. masa di kandang gajah? Ha ha ha ha ha….” tawa sepupuku yang bernama Lia. Sepupuku yang lain ikut tertawa. Aku mendengus kesal, lalu tertawa ikut terbahak-bahak. “Mbak Dannisa….. masuk yuk…. dingin nih….. bbbrrrrr!” kata sepupuku yang bernama Lina, kembarannya Lia. Aku memperhatikannya sesaat, kemudian berkata,” Siapa suruh pakai tank top? Hahaha…” tawaku. “Iiih…. mbak Dannisa ikut enggak?! Kalau nggak ikut ya sudah….. aku masuk sendirian..!” kata Lia. “Eeh….. tunggu…. aku…!” kataku sambil mengejar Lina. O iya…. namaku Dannisa Putri Muslimah. Ada yang memanggilku Nisa, Annis dan ada juga yang memanggilku Dannisa.
Aku segera menyiapkan baju lebaran yang akan kupakai besok. Seperti kemarin malam, aku tidur bersama sepupu-sepupuku dikamar nenek yang besar. Disana sebelum tidur, nenek ceramah. “ Jadi….. Idul Fitri itu artinya mensucikan diri atau kembali fitri, cucuku…” nenek menutup ceramahnya dan meminta aku dan sepupu-sepupuku tidur.
Esoknya, nenek membangunkanku dan menyuruhku untuk mandi. Aku segera mandi. Setelah berganti baju dengan baju yang kusiapkan semalam, aku segera berangkat sholat ied. Saat sholat ied, aku merasa senang sekali. Begitu pulang, aku langsung berlari pulang ke rumah nenek. Tak lama setelah aku sampai di rumah, ibu menyuruhku sungkem dengan nenek dan kakek. Aku segera sungkem. Saat sungkeman, aku diberi uang oleh kakek, nenek, dan paman bibiku. “ Wow! Uang lebaranku RP. 600.000-,!” teriakku setelah menghitung uang lebaranku. “ Ini dia bagian yang kusuka saat lebaran, uang!” teriakku. “Eeeh…… lebaran yang dipentingkan bukan uang dan bukan opor ayamnya dong……. yang dipentingkan adalah kembali fitri…” kata nenekku mengingatkan ceramahnya semalam. Aku dan keluarga besarku tertawa terbahak-bahak.








